Senin, 05 April 2010

asal kata tasawuf dan sejarah perkembangannya


M A K A L A H
Diajukan untuk memenuhi Materi Kuliah “Akhlaq Tasawuf”


Disusun Oleh:
1. Susanto

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
AL-KHAIRIYAH CITANGKIL-CILEGON
2008-2009



ASAL KATA TASAWUF DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA

PENDAHULUAN
Dari dulu sampai sekarang orang tak henti-hetninya membicarakan tentang tasawuf. Ada sebagian ulama yang membolehkan bahkan menganjurkan untuk mengamalkan ajaran tasawuf dan tidak sedikit pula ulama yang mengharamkan mengamalkannya. Terjadinya perbedaan pendapat di kalangan ulama tidak hanya tentang hukum mengamalkan tentang ajaran tasawuf itu sendiri, namun mereka juga berbeda pendapat tentang sejarah mulai munculnya ajaran tasawuf dan asal mula kata “Tasawuf” itu sendiri.

PEMBAHASAN
1. ASAL-USUL TASAWUF
Lafal tasawuf merupakan masdar (kata jadian) bahasa arab dari fi'il (kata kerja) "tashawwafa-yatashawwafu" menjadi "tashawwufan" kata "tashawwafa-yatashawwafu" merupakan fi'lun maziid biharfaini" (kata kerja tambahan dua huruf);yaitu huruf "Ta" dan "Tasydid", yang sebenarnya berasal dari (kata kerja asli dari tiga huruf), yang berbunyi "shaafa-yashuufu" menjadi "shaufan" (mashdar); yang artinya mempunyai bulu yang banyak. Perubahan kata dari kata "shaufa-yashuufu-shaufan" menjadi kata "tashawwafa-yatashawwafu-tashawwufan" yang diistilahkan dalam kaidah bahasa arab;yang artinya menjadi atau berpindah. Jadi lafal "attashawwafu" yang artinya (menjadi) berbulu yang banyak; dengan arti sebenarnya adalah menjadi sufi, yang ciri khas pakaiannya selalu tebuat dari bulu domba (wol).
Akan tetapi pemakaian kata inipun menjadi perbedaan pendapat dikalangan Ulama Tasawuf. Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahlinya antara lain:
a. Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi mengatakan
"Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, melangkah menuju (keridhaan) Allah dan meninggalkan (larangan-Nya) menuju kepada (perintah-Nya)."
b. Abu Bakar Al-Katany menekankan bahwa akhlak sebagai titik awal amalan taawuf. Karena itu, bila seseorang hendak mengamalkan ajaran tasawuf, ia harus lebih dahulu memperbaiki akhlaknya.
c. As-Suhrawardi mengemukakan pendapat Ma'ruf Al-Kharakhy yang mengatakan:
"Tasawuf adalah mencari hakikat dan meninggalkan sesuatu yang ada ditangan makhluk (kesenangan duniawi)."
d. Al-Junaid Al-Baghdadi, menekankan bahwa menggunakan waktu dalam mengamalkan tasawuf penting artinya. Karena itu, seorang sufi selalu menggunakan semua waktu untuk mengingat Allah SWT. Dengan berbagai macam ibadah sunnat dan dzikir.
Dari beberapa definisi diatas, dikemukakan definisi lain bahwa tasawuf adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara yag telah dirintis oleh Ulama Sufi, yang disebutnya sebagai suluk untuk mencapai suatu tujuan; yaitu ma'rifat kepada alam yang ghaib, mendapat keridhaan Allah serta kebahagaan diakhirat.

2. ESENSI TASAWUF
Tasawuf adalah nama lain dari "Mistisisme dalam islam". Dikalangan orientalis barat dikenal dengan sebutan "Sufisme". Kata "Sufisme" merupakan istilah khusus mistisime islam. Sehingga kata "Sufisme" tidak ada pada mistisime agama-agama lain.
Tasawuf adalah suatu kehidupan rohani yang merupakan fitrah manusia dengan tujuan untuk mencapai hakikat yang tinggi, berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah dengan jalan mensucikan jiwanya, dengan melepaskan jiwanya dari kungkungan jasadnya yang menyadarkan hanya pada kehidupan kebendaan, disamping juga melepaskan jiwanya dari noda-noda sifat dan perbuatan yang tercela.
Selanjutnya Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari menyebutkan, tasawuf adalah ilmu yang menerangkan hal-hal tentang cara mensuci-bersihkan jiwa, tentang cara pembinaan kesejahteraan lahir dan batin untuk mencapai kebahagiaan yang abadi. Dengan demikian nampak jelas, bahwa tasawuf sebagai ilmu agama, khusus berkaitan dengan aspek-aspek moral serta tingkah laku yang merupakan substansi islam. Hakikat tasawuf adalah perpindahan sikap mental, keadaan jiwa dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain yang lebih baik, lebih tinggi dan lebih sempurna.

3. BERBAGAI PENDAPAT TENTANG MUNCUL DAN BERKEMBANG NYA TASAWUF
A. Pada Abad Pertama dan Kedua Hjriyah
1. Perkembangan Tasawuf pada Masa Sahabat
Beberapa sahabat yang tergolong sufi di abad pertama, dan berfungsi sebagai Mahaguru bagi pendatang dari luar kota Madinah, yang tertarik kepada kehidupan sufi. Sahabat-sahabat yang dimaksud antara lain :
a. Abu Bakar As-Siddiq; wafat tahun 13 H
b. Umar bin Khattab; wafat tahun 23 H
c. Usman bin Affan, wafat tahun 35 H
d. Ali bin Abi Thalib; wafat tahun 40 H
e. Salman Al-Farisy

2. Perkembngan Tasawuf Pada Masa Tabiin
Ulama-ulama sufi dari kalangan tabiin, adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan sahabat. Perkembangan tasawuf pada abad kedua ini, dengan mengemukakan tokoh-tokohnya dari kalangan tabiin, meskipun sebenarnya masih ada beberapa Ulama Sufi Tabiin yang masih hidup pada masa abad pertama, namun waktu meninggalnya berada dipermulaan abad ke dua Hijriyah.
Tokoh-tokoh Ulama Sufi Tabiin; antara lain:
a. Al-Hasan Al-Bashry; hidup tahun 22 H-110 H
b. Rabi'ah Al-Adawiyah, wafat tahun 185 H
c. Sufyan bin Said Ats-Tsauriy; hidup tahun 97-161 H
d. Daud Ath-Thaiy; wafat tahun 165 H
e. Syaqiq Al-Balkhiy; wafat tahun 194 H

B. Pada Abad ketiga dan Keempat Hijriyah
1. Perkembangan Tasawuf pada Abad Ketiga Hijriyah
Pada abad ini, terlihat perkembangan Tasawuf yang pesat, ditandai dengan adanya segolongan Ahli Tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran Tasawuf yang bekembang masa itu, sehingga mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu :
a. Tasawuf yang berintikan Ilmu Jiwa; yaitu tasawuf yang berisi suatu metode yng lengkap tentang pengobatan jiwa, yang mengonsentrasikan kejiwaan manusia kepada Khaliknya.
b. Tasawuf ang berintikan Ilmu Akhlak; yaitu didalamnya terkandung petunjuk-petunjuk tentang cara-cara menghindarkan keburukan: yang dilengkapi dengan riwayat dari kasus yang pernah dialami oleh para sahabat Nabi.
c. Tasawuf yang berintikan Metafisika; yaitu yang didalamnya terkandung ajaran yang melukiskan hakikat Ilahi, yang merupakan satu-satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak, serta melukiskan sifat-sifat Tuhan, yang menjadi alamat bagi orang-orang yang akan tajalli kepada-Nya.
Sedangkan tokoh-tokoh sufi yang terkenal abad ini; antara lain :
a. Abu Sulaiman Ad-Durany; wafat tahun 215 H
b. Ahmad bin Al-Hawary Ad-Damasqiy; wafat tahun 230 H
c. Abul Faidh Dzun Nun Ibrahim Al-Mishry; wafat tahun 245 H
d. Abu Yazid Al-Bushthamy; wafat tahun 261 H/ 874 M
e. Junaid Al-Baghdady; wafat tahun 298 H
f. Al-Hallaj; lahir tahun 244 H/ 858 M

2. Perkembangan Tasawuf pada Abad Keempat Hijriyah
Pada abad ini, ditandai dengan kemajuan Ilmu Tasawuf yang lebih pesat dibandingkan dengan kemajuannya diabad ketiga Hijriyah, karena usaha maksimal para Ulama Tasawuf untuk mengembangkan ajaran Tasawufnya masing-masing. Upaya untuk mengembangkan ajaran Tasawuf diluar kota Baghdad dipelopori oleh beberapa Ulama Tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain :
a) Musa Al-Anshary; mengajarkan ilmu Tasauf di Khurasan (Persia atau Iran), dan wafat pada tahun 320 H
b) Abu Hamid bin Muhammad Ar-Rubazy; mengajarkannya disalah satu kota Mesir, dan wafat disana tahun 322 H
c) Abu Zaid Al-Adamy; mengajarkannya di Semenanjung Arabiyah, dan wafat disana tahun 314 H
d) Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahab As-Saqafi; mengajarkannya di Naisabur dan kota Syaraz, hingga ia wafat tahun 328 H

C. Perkembangan Pada Abad Kelima Hijriyah
Disamping adanya pertentangan yang turun temurun antara Ulama Sufi dengan Ulama Fiqh, maka pada abad kelima ini keadaan semakin rawan ketika berkembangnya madzhab (faham) yang hendak mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keturunan Ali bin Abi Thalib. Karena menganggapnya dunia ini harus diatur oleh Imam, karena dialah yang langsung menerima petunjuk dari Rasulallah Saw. Menurut mereka, ada 12 Imam yang berhak mengatur dunia ini, yang disebutnya sebagai Imam Mahdi, yang akan menjelma ke dunia dengan membawa keadilan dan memurnikan agama Islam. Mereka adalah :
1) Ali Bin Abi Thalib
2) Hasan bin Ali
3) Husein bin Ali
4) Ali bin Husein (Zainul Abidin)
5) Muhammad Al-Bakir bin Ali bin Husein
6) Ja'far Shidiq bin Muhammad Al-Bakir
7) Musa Al-Kazim bin Ja'far Shadiq
8) Ali Ridha bin Kazhim
9) Muhammad Jawwad bin Ali Ridha
10) Ali Hadi bin Jawwad
11) Hasan Asykari bin Al-Had
12) Muhammad bin Hasan Al-Mahdi

D. Pada Abad Keenam, Ketujuh dan Kedelapan Hijriyah
1. Perkembangan Tasawuf pada Abad Keenam Hijriyah
Pada abad keenam Hijriyah ini, suasana kemelut antara Ulama Syari'at dan Ulama Tasawuf kembali memburuk, karena dihidupkannya lagi pemikiran-pemikiran yang datangnya (timbulnya) dari Ulama Tasawuf. Sehingga timbul berbagi protes dari Ulama Syari'at dan mengajukan keberatannya kepada pengusa ketika itu.
Beberapa Ulama Tasawuf yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Tasawuf abad ini antara lain:
a. Syihabudin Abu Futu As-Suhrawardi; wafat tahun 587 H/1191 M
b. Al-Ghaznawy; wafat tahun 545 H/1151 M

2. Perkembangan Tasawuf pada Abad Ketujuh Hijriyah
Pada abad ini, tercatat dala sejarah bahwa masa menurunnya gairah masyarakat Islam untuk mempelajari Tasawuf karena berbagai faktor, antara lain:
1) Semakin gencarnya serangan Ulama Syari'at memerangi ahli Tasawuf, yang diiringi dengan serangan golongan Syi'ah yang menekuni Ilmu Kalam dan Ilmu Fiqh.
2) Adanya tekad penguasa (pemerintah) pada masa itu, untuk melenyapkan ajaran Tasawuf didunia Islam, karena dianggapnya bahwa kegiatan itulah yang menjadi sumbar perpecahan umat Islam.
Beberapa Ulama Tasawuf yang berpangaruh diabad ini antara lain:
a. Umar Ibnul Faridh; lahir di Homat (Siria) tahun 576 H/1181 M, dan wafat di Mesir tahun 632 H/1233 M.
b. Ibnu Sabi'in; lahir di Mercial (Spanyol) tahun 613 H/1215 M dan wafat di Mekkah tahun 667 H/1215 M.
c. Jalaludin Ar-Rumy; lahir di kota Balkh tahun 604 H/1217 M, dan wafat tahun 672 H/1273 M

3. Perkembangan Tasawuf pada Abad Kedelapan Hijriyah
Dengan terlampauinya abad ketujuh Hijriyah, hingga dimasukinya abad kedelapan Hijriyah, tidak terdengar lagi perkembangan dan pemikiran baru dalam Tasawuf, meskipun banyak pengarang kaum Sufi yang mengemukakan pemikirannya tentang Ilmu Tasawuf, namun kurang mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari umat Islam. Sehingga boleh dikatakan bahwa nasib ajaran Tasawuf ketika itu,hamper sama dengan nasibnya pada abad ketujuh Hijriyah. Pengarang-pengarang kitab Tasawuf pada abad ini antara lain:
a) Al-Kisany; wafat tahun 739 H/1321 M
b) Abdul Karim Al-Jily; pengarng kitab "Al-Insanul Kamil".

E. Pada Abad Kesembilan, Kesepuluh dan Sesudahnya
Dalam beberapa abad ini, betul-betul ajaran Tasawuf sangat sunyi didunia Islam. Berarti nasibnya lebih buruk lagi dari keadaannya pada abad keenam, ketujuh dan kedelapan Hijriyah. Peneliti Muslim menarik kesimpulan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan runtuhnya pengaruh ajaran Tasawuf didunia Islam, yaitu:
1) Karena memang ahli Tasawuf sudah kehilangan kepercayaan dikalangan masyarakat Islam, sebab banyak dari mereka yang menyimpang dari ajara Islam yang sebenarnya.
2) Karena ketika itu, penjajah bangsa Eropa yang beragama nasrani udah menguasai seluruh negeri Islam.
Meskipun nasib ajaran Tasawuf sangat menyedihkan dalam empat abad tersebut diatas, tetapi tidaklah berarti bahwa ajaran Tasawuf sama sekali hilang diatas bumi ditelan masa. Akan tetapi sampai saat inipun ajaran tersebut tetap hidup, karena merupakan suatu unsur dari ajaran Islam. Hanya saja kadang-kadang disalahgunakan oleh orang-orang tertetu untuk mencapai tujuaannya. Sehingga citra Tasawuf dimata masyarakat Muslim menjadi rusak, karena dikotori oleh motif-motif tertentu yang mengakibatkan ajaran Tasawuf mengalami kemunduran hingga sekarang ini.

KESIMPULAN
Tasawuf merupakan masdar dari fi'il "tashawafa" yang berarti berbulu yang banyak, dan denganarti yang sebenarnya adalah menjadi sufi, yang cirri khas pakaiannya selalu terbuat dari bulu domba (wol). Sedangkan menurut istilah adalah melakukan ibadah kepada Allah dengan cara-cara yang dirintis oleh Ulama Sufi, yang disebutnya sebagai suluk untuk mencapai suatu tujuan; yaitu ma'rifat kepada ala yang ghaib, mendapatkan keridhaan Allah serta kebahagiaan di akhirat.


REFERENSI

Syukur, Amin, Prof. Dr, Tasawuf Kontekstual. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
www.muslim.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar