Selasa, 06 April 2010

sejarah penurunan al-qur'an dan penulisannya

MAKALAH
ULUMUL QUR’AN
SEJARAH PENURUNAN AL-QUR’AN DAN PENULISANNYA
Dosen : Dra. Nurfawati Alwi

Disusun Oleh :
1. Tati Mutia
2. Hamilah
3. Susanto
4. Nurbaiti
5. Junanda
6. Rosita Malinda
7. Ismi Zurmi’ah
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIAH (STIT) AL-KHAIRIYAH
CILEGON – BANTEN
2009

BAB I
Pendahuluan
Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, tertulis dalam mushaf, dipindahkan secara teratur menurut riwayat, serta bacaannya termasuk ibadah, menjadi petunjuk dalam hidup manusia. Oleh karenanya upaya-upaya untuk senantiasa mengakui dan menjaga kelestarian Al-Qur’an semua sistematis sudah mulai dilakukan oleh para sahabat-sahabat yang hidup sezaman dengan Rasulullah SAW sampai dengan para tabiin, mulai dari kondifikasi, tata cara membaca Al-Qur’an sampai kepada pembuatan UlumulQur’an yang merupakan kajian intelektual Islam.
Ditinjau dari berbagai segi Al-Qur’an membaiat manusia semakin dipacu untuk terus mendalami kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Menelusuri dan menelaah sejarah penurunan Al-Qur’an, serta proses penulisan Al-Qur’an itu sendiri adalah kajian yang akan lebih membuat kita mengenal Al-Qur’an dan prosesi dari Al-Qur’an tersebut.

BAB II
Sejarah Penurunan Al-Qur’an dan Penulisannya
1. Sejarah Turunnya Al-Qur’an
Wahyu Al-Qur ‘an turun kepada Nabi Muhammad SAW untuk pertama kali di Gua Hiro pada malam Lailatul Qodri tepatnya pada bulan Ramadhan. Surat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah QS. Al-Alaq ayat 1-5.
Rasulullah SAW menerima wahyu Al-Qur’an tidak langsung semua, akan tetapi secara berangsur-angsur. Dengan demikian jangka waktu yang ditempuh Rasulullah SAW dalam menerima wahyu Al-Qur’an pun terbilang lumayan lama yakni dalam jangka 22 tahun 2 bulan 22 hari. Itu pun dibagi menjadi 2 periode :
a) Turunnya Al-Qur’an di kota Madinah selama 12 tahun 5 bulan dan 13 hari.
b) Turunnya Al-Qur’an di kota Madinah selama 9 tahun 9 bulan dan 9 hari.

A) Masa Turunnya Al-Qur’an
Penjelasan tentang turunnya Al-Qur’an dapat kita temukan dalam QS. Al-Baqarah : 184, Al-Hijr : 9 dan Ad-Dukhan : 3.
Wahyu Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Ada beberapa pendapat mengenai cara turunnya wahyu Al-Qur’an, namun dapat kita simpulkan bahwa proses turunnya Al-Qur’an dari Allah SWT sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui 3 tahapan : Pertama, Al-Qur’an turun di Lauhuf Mahfudz dengan sekaligus yang mana hanya para Malaikat saja yang dapat menyentuh Al-Qur’an tersebut. Kedua, dari Lauhul Mahfudz Al-Qur’an diturunkan di Baitul ‘Izza (langit dunia). Ketiga, dari Baitul Izzah mulailah Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW pada malam lailatul Qodar (pada malam ke-24).
B) Turunnya Wahyu Al-Qur’an Kepada Rasulullah
Allah mewahyukan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW dengan perantara ataupun tanpa perantara. Metode turunnya wahyu kepada Rasulullah adalah :
1. Wahyu diturunkan secara langsung atau tanpa perantara ( penglihatan dalam mimpi);
2. Diturunkan dari belakang hijab;
3. Dengan perantara Malaikat Jibril.

C) Al-Qur’an Turun Secara Berangsur-angsur
Banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur dan lafadz Tanziel menunjukan turunnya secara berangsur-angsur, berbeda dengan lafadz Inzaal yang artinya turun sekaligus. Para ahli bahasa membedakan antara pengertian antara dua lafadz tersebut. Tanziel adalah sesuatu yang diturunkan secara terpisah, sedangkan inzal sifatnya lebih umum. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat As-Syuro : 192 – 195.
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ, نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ اْلأَمِيْنُ, عَلىَ قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ, بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ. (الشعراء : 192 – 195)
“Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan .” (As-Syu’araa’ : 192 – 195)

Hikmah Turunnya Al- Qur’an secara berangsur-angsur
1. Pembaharuan wahyu menguatkan hati Rasulullah. Rasulullah SAW telah menyebarkan dakwahnya kepada seluruh manusia diantara mereka ada yang mengingkari dan mencela Rasulullah. Oleh karenanya setiap wahyu yang turun akan lebih menguatkan hati beliau;
2. Memudahkan pemahaman dan menghafalnya;
3. Mukjizat bagi rasul;
4. Kesesuain sikon dan prodesasi hukum;
5. Bukti yang kuat bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.



BAB III
Sejarah dan Proses Penulisan Al-Qur’an

A) Kronologi Penyusunan Al-Qur’an
- Sejarah Pengumpulan Mushaf
Al-Qur’an adalah mukjizat nabi Muhammad SAW yang paling istimewa karena Al-Qur’an tidak hanya sesuai dengan zaman semasa beliau hidup, akan tetapi sampai hari kiamat tiba. Oleh karena itu Nabi mewasiatkan kepada para sekretarisnya untuk menghapal Al-Qur’an dan menuliskannya. Apabila ada kekurangan Rasulullah langsung memperbaikinya. Diantara para sahabat yang mengumpulkan, menulis dan menghapalkannya adalah : Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Abu Bakar Syiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, Muawiyah bin Abi Sufyan dan lain sebagainya.

B) Pengumpulan Al-Qur’an Pada Zaman Rasulullah
Pengumpulan Al-Qur’an pada zaman Rasulullah SAW adalah dengan melalui hafalan. Beliau sangat senang ketika menerima wahyu. Oleh karenanya beliau menghafal dan memahaminya. (QS. Al-Qiyamah : 7) Maka dengan itu beliau merupakan penghafal pertama, dan para sahabat mencontoh suri tauladannya sebagai usaha menjaga kemurnian dan keaslian Al-Qur’an sampai akhir hayat mereka.
Dari Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam sahihnya dengan tiga riwayat tentang ahli-ahli penghafal Al-Qur’an.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْعَاصِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ (ص) يَقُوْلُ : خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ : مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ, وَسَالِمٍ, وَمُعَاذٍ, وَابْنِ كَعْبٍ. (رواه البخاري)
Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW berasabda : “Ambillah Al- Qur’an dari empat orang : dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz dan Ubay bin Ka’ab". 4 dari mereka terdiri dari 2 orang Muhajirin (Abdullah bin Mas’ud serta Salim) dan dua dari Anshar (Muadz dari Ubay). (HR. Bukhari)

B. Kodifikasi Al-Qur’an di zaman Kholifah Abu Bakar Syiddiq
Setelah Rasulullah SAW wafat, Abu Bakar As-Syidiq terpilih menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Pada saat itu beliau memerintahkan untuk memerangi kaum musyrikin, dan mengutus bala tentaranya pada perang Yamamah pada tahun 12 H. Dalam perang ini banyak para sahabat yang hafal Al-Qur’an gugur. Disebutkan bahwa diantara mereka yang mati syahid 70 orang adalah ahli Qur’an. Hal ini membuat Umar bin Khattab cemas. Beliau takut bahwa lama kelamaan Al-Qur’an akan musnah. Oleh karenanya beliau menemui Kholifah Abu Bakar untuk mengumpulkan dan menuliskannya. Namun beliau menolak, alasannya adalah karena pada zaman Rasulullah hidup tidak pernah memerintahkan hal tersebut. Umar bin Khattab terus saja meminta Abu Bakar untuk menuliskannya hingga pada akhirnya Allah membukakan pintu hatinya dan mengumumkan pengumpulan dan penulisan Al-Qur’an yang diserahkan kepada Zaid bin Tsabit.
Mulailah Zaid bin Tsabit mengumpulkan hafalan Al-Qur’an baik itu dari para sahabat ataupun dari tulisan-tulisan yang masih berserakan di berbagai tempat dan dijadikan ke dalam satu mushaf.

C. Kodfikasi Al-Qur’an di zaman Umar bin Khattab
Sebelum wafatnya Abu Bakar, ia menyerahkan mushaf tersebut kepada Umar. Mushaf tersebut berada di tangan Umar sampai belaiu wafat. Upaya pengumpulan Al-Qur’an terus dilanjutkan oleh Umar bin Khattab dalam artian menjaga keaslian dan hafalan para sahabat. Tanggung jawab moral sebagai orang-orang yang mendesak Abu Bakar untuk mengumpulkan Al-Qur’an, menuntut Usman untuk selalu mengontrol penulisan dan pengumpulan Al-Qur’an.

D. Kodifikasi Al-Qur’an di zaman Usman bin Affan
Pada masa Usman bin Affan ini orang-orang islam banyak yang berselisih dalam bacaan Al-Qur’an sehingga menimbulkan perdebatan antara mereka karena mereka mengklaim bahwa bacaan mereka lah yang paling benar. Dengan adanya perbedaan ini, Usman bin Affan yang menjabat sebagai Kholifah pada saat itu menugaskan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits untuk mengumpulkan Al-Qur’an.
Satu prinsip yang mereka ikuti dalam menjalankan tugas ini adalah bahwa dalam kasus kesulitan bacaan, dialek Quraisy—suku dari mana Nabi berasal—harus dijadikan pilihan. Keseluruhan Al-Qur’an direvisi dengan cermat dan dibandingkan dengan suhuf yang berada di tangan Hafshah serta dikembalikan kepadanya ketika resensi Al-Qur’an selesai digarap. Dengan demikian, suatu naskah otoritatif (absah) Al-Qur’an, yang sering juga disebut mushaf Utsamni, telah ditetapkan. Sejumlah salinannya dibuat dan dibagikan ke pusat-pusat utama daerah Islam.


BAB IV
Kesimpulan

Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan cara berangsur-angsur. Ketikan wahyu turun, Nabi selalu menyuruh para sekretarisnya untuk menulisnya baik di daun-daun, pelepah kurma, tulang-tulang dan lain sebagainya. Setelah Nabi wafat, Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit dan kawan-kawannya agar mengumpulkan suhuf-suhuf Al-Qur’an untuk dijadikan sebuah mushaf. Dan pada masa Usman bin Affan mushaf itu disalin atau diperbanyak dan diletakkan di beberap pusat kota kekuasaan Islam untuk mempersatukan lahjah (logat) umat islam dalam membaca Al-Qur’an.


Referensi
DR. Rosihon Anwar, M.Ag, Ulum Al-Qur’an, Pustaka Setia, Bandung, 2008.
Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy, studi Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Setia, Bandung, 1999.
Drs. H. Kahar Mashyhur, Pokok-Pokok Ulumul Qur’an, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar