Sabtu, 18 September 2010

sejarah islam di jawa

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
B. SEJARAH ISLAM DI JAWA
1. Kerajaan Islam di Pulau Jawa
a. Kerajaan Demak ( 1500-1550 )
kerajaan Demak didirikan oleh raden fatah pada awal abad XIV.pada mulanya, demak merupakan pusat pengajaran islam yang dipelopori oleh raden fatah (tahun 1500M),kemudian makin lama demak berkembang menjadi kota perdagangan dan akhirnya menjadi sebuah kerajaan. Pendidikan dan pengajaran islam bertambah maju dan penyebaran islam ke seluruh pulau jawa maju pesat karena aanya bantuan pemerintah dan pembesar-pembesar islam yang membelanya. Dengan demikian, didikan dan ajaran islam mulai mendesak dan mengurangi pengaruh agama hindu sedikit demi sedikit.
Kitab-kitab agama islam dizaman demak yang kini masih dikenal adalah primbon, yaitu notes berisi segala macam catatan tentang ilmu-ilmu agama, doa, bahkan juga tentang ilmu obat-obatan, ilmu gaib, dan sebagainya. Selain itu, ada lagi kitab-kitab yang dikenal dengan nama suluk sunan bonang, uluk sunan kalijaga, wasita jati sunan geseng dan lain-lain. Kitab ini berbentuk diklat didikan dan ajaran mistik(tasawuf) islam dari para sunan yan bersangkutan yang ditulis dengan tangan.
Proses penyiaran islam pada waktu itu dengan cara propaganda tingkah laku dan perbuatan, tidak banyak bicara, dan secara berangsur-angsur dalam menjalankan hukum syariat. Di tempat-tempat entral suatu daerah didirika masjid yang dipimpin seorang badal. Dialah yang menjadi sumber ilmu dan pusat pendidikan dan pengajaran islam. Wali suatu daerah diberi gelar resmi, yaitu sunan ditambah nama daerahnya.
Untuk menyempurnakan rencana pendidikan, wali songo dari kerajaan demak mengambil suatu keputusan untuk mengisi semua cabang kebudayaan nasional, yakni filsafat hidup, kesenian, kesusiaan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan yang lainnya dengan anasi-anasir pendidikan dan pengajaran islam agar agama islam mudah diterima dan menjadi darah daging dalam kehidupan masyarakat. Usaha ini berhasil dengan baik. Keberhasilan ini menunjukan kecakapan, kebijaksanaan sunan kalijaga dan sunan giri dalam lapangan pendidikan dan pengajaran islam.



b. Kerajaan Mataram ( 1575-1757 M )
Perpindahan kekuasaan dari Demak ke pajang tidak menyebabkan perubahan yang berarti dalam sistem pendidikan dan pengajaran Islam. Setelah pusat kerajaan Islam berpindah dari Pajang ke Mataram (tahun 1586 ), tampak beberapa perubahan, terutama pada zaman Sultan Agung (tahun 1613 M ). Setelah mempersatukan Jawa Timur dengan Mataram serta daerah-daerah yang lain, Sultan Agung mulai mencurahkan perhatiannya untuk membangun negara, seperti mempergiat berladang dan bersawah, serta memajukan perdagangan dengan luar negeri.
Atas kebijaksanaan Sultan Agung, kebudayaan lama yang berdasarkan Indonesia asli dan Hindu dapat disesuaikan dengan agama dan kebudayaan Islam, seperti :
1. Gerebeg disesuikan dengan hari raya Idul Fitri dan Maulid Nabi. Sejak itu terkenal dengan gerebeg poso (puasa) dan gerebeg Mulud.
2. Gamelan Sekaten yang hanya dibunyikan pada Gerebeg Mulud, atas kehendak Sultan Agung dipukul di halaman masjid.
3. Karena hitungan tahun caka (Hindu) yang dipakai di Indonesia (Jawa) berdasarkan hitungan perjalanan matahari berbeda dengan tahun Hijriyah yang berdasarkan perjalanan bulan, pada tahun 1633 M, atas perintah Sultan Agung, tahun caka yang telah berangka 1555 tidak lagi ditambah dengan hitungan matahari, melainkan dengan hitungan perjalanan bulan, sesuai dengan tahun Hijriyah. Tahun yang baru disusun itu disebut tahun jawa dan sampai sekarang tetap dipergunakan.

Sultan Agung juga memerintahkan supaya di tiap-tiap ibu kota kabupaten didirikan sebuah masjid, sebagai induk dari semua masjid dalam daerah kabupaten, dan pada tiap-tiap ibu kota didirikan sebuah masjid kewedanaan. Begitu pula pada tiap-tiap desa. Masjid Gede dikepalai seorang penghulu dan dibantu oleh empat puluh orang pegawainya. Masjid kewedanaan dipimpin oleh seorang Naib dan dibantu oleh sebelasa orang pegawainya, sedangkan masjid desa dikepalai oleh Modin (kayim kaum) dan empat orang pembantunya. Pada satu desa diadakan beberapa tempat seperti pengajian Quran, dan diajarkan pokok-pokok ajaran Islam, seperti cra beribadah, rukun iman, rukun Islam dan sebagainya. Jumlah tempat pengajian bergantung pada banyaknya Modin di desa itu.

2. Sejarah Pendidikan Islam di Jawa
Sejarah pendidikan Islam di Indonesia sebelum Indonesia merdeka masih berdaarkan kedaerahan dan belum berpusat seperti sekarang ini. Oleh karena itu, tiap-tiap daerah melancarkan pendidikan dan pengajaran Islam menurut keadaan daerah masing-masing.
Pendidikan Islam di Jawa berlainan keadaanya dengan di Sumatera dan Sulawesi, Maluku, dan daerah lainnya. Ajaran Islam di Jawa tersebar dari pelabuhan dan bandar-bandar tempat perhubungan dagang antara Indonesia dan luar negeri, misalnya: Sunda Kelapa (Jakarta), Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik, Surabaya, dan daerah lainnya. Akibat hubungan ini, para pedagang Indoneia mengetahui dan mendengar tentang ajaran Islam dan juga tentang didikan Islam melalui percakapan mereka sehari-hari.
Banyak pedagang yang pulang pergi berlayar antara Jakarta dan Maluku yang telah menjadi pusat perkembangan Islam yang telah memeluk agama Islam. Pedagang-pedagang aing pun, seperti bangsa Tionghoa, banyak yang memeluk Islam sehingga lambat laun perkembangan di pulau Jawa berpindah ke tangan kaum Muslim. Bupati-bupati di pesisir dan orang-orang bangsawan banyak yang mauk Islam. Jika para bupati dan bangsawan telah masuk Islam, agama Islam akan mudah meluas di kalangan masyarakat.
Di samping para pedagang, ada juga orang-orang yang sangat berjasa dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan ajaran Islam di Pulau Jawa, yaitu wali yang sembilan atau terkenal dengan sebutan wali songo, yaitu :
1. Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama dari persia, dan menyebarkan Islam di daerah Jawa Timur, tepatnya di daerah Gresik. Di sini, ia membuka pusat pengajaran Islam dan mempunyai banyak santri.
2. Sunan Ampel, yang bernama aali Raden Rahmat. Ia memusatkan dakwahnya di daerah Ampel Surabaya.
3. Sunan Bonang, bernama asli Makhdum Ibrahim menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur, Tuban dan mendirikan pusat pengajaran Islam Di Tuban.
4. Sunan Giri, (Raden Paku), putra Maulana Ishak, pernah ke Pasai untuk memperdalam agama Islam. Bersama putra Sunan Ampel, ia mendirikan pusat pengajaran di Giri.
5. Sunan Drajat (Syaripudin), adik Sunan Bonang, memuatkan daerah dakwahnya di sedayu, Jawa Timur. Ia di kenal sebagai ulama yang berjiwa sosial.
6. Sunan Kudus (Jafar Shidiq), sewaktu muda menjadi panglima perang Kerajaan Demak, dan menyebarkan Islam di daerah Kudus sampai mendirikan sebuah masjid.
7. Sunan Kaljogo (R.M. Syahid), keturunan bangsawan Majapahit, menyebarkan Islam di daerah Demak.
8. Sunan Muria (Raden Prawoto), putra Sunan Kalijaga dalam dakwahnya lebih mencurahkan pada ajaran tasawuf.
9. Sunan Gunung Djati (Fatahillah atau Syekh Nurullah), menyebarkan ajaran Islam di daerah Jawa Barat, yaitu daerah Cirebon, dan wafat di Cirebon.

Demikianlah perkembangan Islam yang dipelopori oleh Wali Songo. Mereka berhasil menyebarkan Islam di Pulau Jawa dan bahkan mengirim santri-santri mereka ke luar Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam.












KERAJAAN-KERAJAN ISLAM ZAMAN PENJAJAHAN BELANDA
A. Situasi dan Kondisi Kerajaan-Kerajaan Islam Di Indonesia Ketika Belanda Datang
Keadaan Kerajaan-kerajan Islam menjelang datangnya Belanda di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 ke Indonesia berbeda-beda, bukan hanya berkenaan dengan kemajuan politik, tetapi juga prose Islamisasinya. Di Sumatera, penduduk sudah Islam sekitar tiga abad, sementara di Maluku dan Sulawesi proses Islamisasi baru saja berlangsung.
Di Sumatera, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, peraturan politik di kawasan Selat Malaka merupaka perjuangan segi tiga : Aceh, Portugis, dan Johor yang merupakan kelanjutan dari kerajaan Malaka Islam. Pada abad ke-16, tampaknya Aceh menjadi lebih dominan, terutama karena para pedagang Muslim menghindar dari Malaka dan memilih Aceh sebagai pelabuhan transit. Aceh berusaha menarik perdagangan internasional dan antarkepulauan Nusantara. Bahkan, ia mencoba menguasai pelabuhan-pelabuhan lada, yang ketika itu sedang banyak permintaan. Kemenangan Aceh atas Johor, membuat kerajaan terakhir ini pada tahun 1564 menjadi daerah assal dari Aceh.
Setelah berhasil menguasai daerah-daerah di Sumatera bagian utara, Aceh berusaha menguasai Jambi, pelabuhan pengekspor lada yang banyak dihasilkan di daerah-daerah pedalaman seperti, Minangkabau dan yang diangkut lewat sungai Indragiri, Kampar, dan Batanghari, Jambi, yang ketika itu sudah Islam, juga merupakan pelabuhan transito, tempat beras dan bahan-bahan lain dari Jawa, Cina, India, dan lain-lain diekspor ke Malaka. Selain itu, ekspansi Aceh ketika itu berhasil menguasai perdagangan pantai barat Sumatera dan mencakup Tiku, Pariaman, dan Bengkulu.
Ketika itu, aceh memang sedang berada pada masa kejayaannya di bawah sultan Iskandar muda. Iskandar muda wafat dalam usia 46 tahun pada 27 desember 1636. ia di gantikan oleh sultan iskandar tsani. Sultan ini masih mampuh mempertahankan kebesaran aceh. Akan tetapi, setelah ia meninggal dunia, 15 februari 1641, aceh secara berturut-turut dipimpin oleh tiga orang wanitaselama 59 tahun. Ketika itulah, aceh mulai mengalami kemunduran, daerah-daerah di sumatera yang dulu berada dibawah kekuasaannya mulai memerdekakan diri.
Meski sudah jauh menurun, aceh masih bertahan lama menikmati kedaulatannya dari intervensi kekuasaan asing. Padahal kerajaan-kerajaan islam lainnya, seperti minangkabau, jambi, riau, dan palembang tidak demikian.
Di jawa, pusat kerajaan islam sudah pindah dari pesisir ke pedalaman, yaitu dari demak ke panjang kemudian ke mataram. Berpindahannya pusat pemeritahan itu membawa pengaruh besar yang sangat menentukan perkembanga ejarah islam di jawa, di antaranya adalah: (1) kekuasaan dan sistem politik didasarkan atas basis agraris, (2) peranan daerah pesisir dalam perdagangan dan pelayaran mundur, demikian juga peranan pedagang dan pelayar jawa, dan (3) terjadinya pergeseran pusat-pusat perdagangan dalam abad ke-17 dengan segala akibatnya.
Sebagaimana disebutkan pada bab X, pada tahun 1619, seluruh jawa timur praktis sudah berada dibawah kekusaan mataram, yang ketika itu di bawah sultan agung. Pada masa pemerintahan sultan agung inilah, kontak-kontak bersenjata antara kerajaan mataram dengan VOC mulai terjadi.
Meskipun expansi mataram telah menghancurkan kota-kota pesisir dan mengakibatkan perdagangan setengahnya menjadi lumpuh, namun sebagian utama dan pengexsporan beras, posisi mataram dalam jaringan perdagangan di nusantara masih berpengaruh.
Sementara itu, banten di pantai jawa barat muncul sebagai simpul penting antara lain karena, perdagangan ladanya dan tempat penampungan pelarian dari pesisir jawa tengah dan jawa timur. Di samping itu, banten juga menarik perdagangan lada dari indra pura, lampung, dan palembang. Produksi ladanya sendiri sebenarnya kurang berarti.
Di sulawesi, pada akhirnya abad ke-16, pelabuhan makasar berkembang dengan pesat. Letaknya memang strategis, yaitu tempat persinggahan ke maluku, filipina, cina, patani, kepulauan nusa tersinggahan, dan kepulauan indonesia bagian barat. Akan tetapi, ada faktor-faktor historis lainnya yang mempercepat perkembangan itu. Pertama, pendukung malaka oleh portugis menhakibatkan terjadinya migrasi pedagang melayu, kedua, arus migrasi melayu bertambah besar setelah aceh mengadakan ekspedisi terus menerus.ketiga, blokade belanda terhadap malaka dihindari oleh pedagang, baik indonesia maupun india, asia barat dan asia timur. Keempat, merosotnya pelabuhan jawa timur mengakibatkan fungsinya diambil oleh pelabuhan makasar. Kelima, usaha belanda memonopoli perdagangan rempah-rempah di maluku membuat makasar mempuyai kedudukan sentral bagi perdagangan antara malaka dan maluku.
B. LATAR BELAKANG KEDATANGAN BELANDA, VOC, HINDIA BELANDA
Tujuan belanda datang ke indonesia, untuk mengembangkan uaha perdagangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang mahal harganya di eropa.perseroan amsterdam mengirim armada kapal dagangnya yang pertama ke indonesia tahun 1595, terdiri dari empat kapal,di bawah pimpinan cornelis de houtman.
Melihat hasil yang diproleh perseroan amsterdam itu, banyak perseroan lain berdiri yang juga ingin berdagangan dan berlayar ke indonesia.
Dalam pelayaran pertama, VOC sudah mencapai banten dan selat bali. Pada pelayaran kedua, mereka sampai ke maluku untuk membeli rempah-rempah.
Dalam usaha mengembangkan perdagangannya, VOC nampak ingin menguasai perdagangan indonesia menmbulkan perlawanan pedagang pribumi yang meraa kepentingannya terancam.
Pada tahun 1798, VOC di bubarkan dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta gulden. Sebelumnya, pada 1795 izin operasinya dicabut.kemunduran, kebangkrutan, dan dibubarkannya VOCdisebabkan oleh berbagai faktor, antara lain pembukuan yang curang, pegawai yang tidak cakap dan korup, hutang besar.

C. PENETRASI POLITIK BELANDA
VOC sejak semula memang diberi izin oleh pemerintahan belanda untuk melakukan kegiatan politik dalam rangka mendapatkan hak monopoli dagang di indonesia. Oleh karena itu VOC di bantu oleh militer dan armada tentara serta hak-hak yang bersifat kenegaraan mempunyai wilayah, mengadakan perjanjian politik, dan sebagainya.dengan pelengkapan yang lebih maju, voc, melakukan politik ekspansi. Dengan kata lain, abad ke-17 dan 18 adalah periode ekspansi dan monopoli dalam sejarah kolonial di indonesia. Kenjelang akhir abad 18 , ekspansi wilayah ini berhasil dijawa.
Sultan agung sejak semula sudah melihat bahwa belanda adalah ancaman. Pada tahun 1628 dan 1629, mataram dua kali melakukan serangan ke batavia, tetapi gagal, masuknya pengaruh belanda ke pusat kekuasaan mataram adalah karena amangkurat II (1677-1703) meminta bantuan vocuntuk memadamkan pemberontakan trunojoyo, adipati madura, dan pemberontakan kajuran.
Hubungan belanda dengan banten menjadi runcing ketika sultan ageng tirtayasa naik tahta tahun 1651. ia sangat memusuhi belanda, karena belanda dipandangnya menghalangi usaha banten memajukan dunia perdagangan. Pada tahun 1656, dua kali kapal Belanda diraampas Banten, tetapi itu tidak menimbulkan perang terbuka antara dua pelah pihak. Anak Sultan Ageng Tirtayassa, Sultan Haji, yang di angkat menjadi Sultan Muda tahun 1676, ternyata tidak menyenangi sikap politik ayahnya yang memusuhi Belanda. Ia ingin mengadakan hubungan baik dengan orang Barat ini. Pada 27 Februari 1682, Sultan Agung Tirtayasa menyerang Surosowan, istana Sultan Haji, yang ketika itu sudah menjadi pimpinan kerajaan Banten. Serangan ini dapat dipatahkan berkat bantuan Belanda, tetapi dengan demikian, Banten praktis berada di bawah kekuasaan Belanda.
Sementara itu, sebagai dua kerajaan yang selalu bersaing, Gowa-Tallo dan Bone, terus terlibat konflik, meskipun sewaktu-waktuterhenti. Ketika terjadi pertentangan mengenai monopoli antara Gowa dan VOC, Sultan Gowa, Sultan Haanuddin, mengambil langkah mengadakan pengawasan ketat terhadap Bone dan mengerahkan tenaga kerja untuk memperkuat pertahanan Makasar. Dalam pertempuran antara Gowa dan Bone, Bone mengalami kekalahan besar. Orang-orang Bugis kemudian bersatu di bawah pimpinan Arung Palaka untuk melawan Makassar. VOC mendapat keuntungan besar dari persekutuan orang-orang itu, persekutuan Soppeng dan Bone, bahkan Belanda juga berhasil mengajak Ternate untuk terlibat dalam peperangan melawan Makassar. Dalam peperangan itu Makasar mengalami mengalami kekalahan. Konfrontasi antara Makasar dan VOC baru terakhir setelah diadakan genjatan pada tanggal 6 November 1667, kemudian prjanjian Bongaya tanggal 13 November 1667.Isi perjanjian itu terutama menekankan prinsip hidup berdampingan secara serasi dalam suasana perdamaian.



D. PERLAWANAN TERHADAP PENJAJAHAN BELANDA
Di sini hanya akan di paparkan empat perlawanan terbesar dan terlama, tentu tidak dengan maksud mengecilkan perlawanan-perlawanan yang lain. Empat perlawanana itu adalah :
1. Perang Paderi di Minangkabau
Pusat kekuaaan Minangkabau adlah Pagaruyung, tetapi raja hanya brfungsi sebagai lambang. Kekuasaan sesungguhnya berada di tangan para penghulu adat. Walaupun Islam sudah masuk sejak abad ke-16, tetapi proses sinkretisme berlangsung lama. Pemurnian Islam dimulai oleh Tuanku Koto Tuo dengan pendekatan damai. Tetapi, pendekatan itu tidak diterima oleh murid-muridnya yang lebih radikal, terutama Tuanku Nan Renceh, seorang yang amat berpengaruh dan memiliki banyak murid di daerah Luhak Agam.
Kelompok radikal ini mendapat kekuatan baru tahun 1803, ketiga tiga ulama, Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII kota, dan Haji Piobang dari Lima Puluh Kota pulang dari Mekah. Merek adatang membawa semangat yang diilhami oleh gerakan Wahabi yang puritan. Mereka melihat bahwa penduduk Minangkabau baru masuk Islam secara formal dan belum mengamalkan ajaran agama secara murni.
2. Perang Diponegoro
Perang Diponegoro adalah perang terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Untuk mengetahui latar belakangnya, perlu dilacak kondisi hidup rakyat, lebih-lebih dalam bidang sosial ekonomi. Sistem pajak tradisional menjadi beban berat secara turun temurun. Di samping itu, masih ada pajak pabean dan pajak lalu lintas. Faktor ekonomi lain yang menimbulkan kelisahan rakyat adalah peraturan pemerintah Hindia Belanda yang menetapkan bahwa semua penyewa tanah oleh penguasa Eropa dari penguasa dan bangsawan pribumi dibatalkan denga mengembalikan uang sewa atau pembayaran lain yang telah dilakukan. Banyak kaum ningrat yang terkena peraturan itu dan mengalami kesulitan besar, termasuk di dalamnya Pangeran Diponegoro.
3.Perang Banjarmasin
Perang Banjarmasin dengan Pangeran Antasari sebagai pahlawanan yang terkemuka dilatarblakangi oleh campur tangan Belanda dalam menentukan siapa yang akan menjadi raja muda pengganti sultan, apabila sultan berkuasa wafat. Sultan Adam Alwasik Billah sudah tua. Di sampingnya harus ada wakil dengan gelar sultan muda. Jabatan itu diserahkan kepada putranyabernama Abdurrahman. Akan tetapi, Abdurrahman tidak berusia panjang. Karena itu, Sultan ingin menunjuk penggantinya. Ia memilih cucunya, pangeran Hidayat, yang memang sangat disayangi dan berbudi pekerti baik, cerdas, pandai bergaul serta memperhatikan nasib rakyat.
4. Perang Aceh
pada awal abad ke-19, sebenarnya hegemoni kerajaan aceh di sumatera utara sudah sangat menurun, tetapi kedaulatannya masih diakui oleh negara-negara barat. Traktat london 1824 bahkan menjamin kemerdekaannya. Pada tanggal 30 maret 1857 ditanda tangani kontrak antara aceh dan pemerintah hindia belanda yang berisi kebebasan perdagangan. Kontrak itu memberikan kedudukan pada belanda di sana di perkuat oleh traktat siak yang di tanda tangani pada tahun itu juga. Sultan aceh menentang isi traktat tersebut karena bertentangan denganhegemoni aceh. Dalam pertempuran antara aceh dan belanda setalah itu, deli, serdang, dan asahan jatuh ke tangan belanda.
Setelah terusan suez di buka, pelabuhan aceh menjadi sengat strategis, karena berada dalam urat nadi pelayaran internasional.sementara itu, imperialisme dan kapitalisme memuncak dan negara-negara barat berlomba-lomba mencari daerah jajahan baru. Kondisi ini mendesak inggris dan belanda untuk mengadakan perundingan. Berdasarkan traktat sumatera 2 novenber 1871, pihak belanda diberi kebebasan memperluas daerah kekuasaanya di aceh,sedangkan inggris memperoleh kebebasan berdagang di daerah siak.traktat ini jelas memberi peluang kepada belanda untuk meneruskan agresinya, belanda kemudian memaklumikan perang terhadap aceh pada tanggal 26 maret 1873.
E. POLITIK ISLAM HINDIA BELANDA
Indonesia merupakan negeri berpenduduk mayoritas muslim. Agama islam secaa terus menerus menyadarkan pemeluknya bahwa mereka harus membebaskan diri dari cengkraman pemerintah kafir. Perlawanan dari raja-raja islam terhadap pemerintah kolonial bagai tak pernah henti. Padam di suatu tempat muncul di tempat lain. Belanda menyadari bahwa perlawanan itu diinspirasi oleh ajaran islam.
Oleh kerana itu, agama islam di pelajari secara ilmiah di negeri belanda. Seiring dengan itu, di sana juga diselinggarakan indologie, ilmu untuk mengenal lebih jauh seluk-beluk penduduk indonesia. Semia itu dimaksudkan untuk mengukuhkan kekuasaan belanda di indonesia. Hasil perkajian itu, lahirlah apa yang di kenal dengan ” politik islam ”. Tokoh utama dan peletak dasarnya adalah prof.Snouck hurgronje. Dia berada di indonesia antar tahun 1889 dan 1906. berkat pengalamannya di timur tengah, sarjana sastra semit ini berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijaksanan menghadapi islam di indonesia, yang menjadi pedoman bagi pemerintah hindia belanda, terutama bagi Adviseur voor inlandsche zaken, lembaga penasehat gubernur jendral tentang segala sesuatu mengenai pribumi.
Dalam rangka membendung pengaruh islam, pemerintah belanda mendirikan lembaga pendidikan bagi bangsa indonesia, terutama utuk kalangan bangsawan. Mereka harus ditarik ke arah westernisasi. Dalam pandangan Snouck hurgronje, indonesia harus melangkah ke arah dunia moderen sehingga secara indonesia menjadi bagian dari dunia mdern.
Analisa snock hurgronje tentang potensi pribumi dan teorinya tentang pemisahan unsur agama dari unsur politik, tidak sejalan dengan perkembangan situasi, terutama dua puluh tahun terakhir kekuasan belanda di indonesia, oleh karena itu, peranan politik kantoor voor inandsche zaken semakin menghilang pada tahun-tahun terakhir, meskipun wewenangnya mengawasi gerakan politik lebih di pertegas sejak tahun 1931. kantoor ini memang harus menjamin kelangsungan pemerintah hindia belanda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar