Sabtu, 09 Juni 2012

ILMU JIWA BELAJAR AGAMA


MAKALAH

“ILMU JIWA BELAJAR AGAMA”

“FAKTOR EKSTERNAL DALAM INTERNALISASI
NILAI AGAMA”










NAMA KELOMPOK 8:
Þ    ISMI ZURNIAH
Þ    ADE RAHMAWATI
Þ    SITI ROSMAWATI


SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH (STIT)
AL-KHAIRIYAH
CITANGKIL – CILEGON
TAHUN  PELAJARAN
2010 - 2011


KATA PENGANTAR


Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan ni’mat sehat jasmani dan rohani kepada kita sehingga dapat menyelesaikan tugas kelompok ini dengan baik.
Sholawat serta Salam tetap tercurah pada junjungan Nabi besar kita Muhammad SAW beserta Sahabat, Keluarga dan sampai kepada kita sebagai umat nya yang telah membawa kita dari Zaman kebodohan kepada zaman yang penuh dengan cahaya kebenaran dan modern.
Dengan adanya makalah “Faktor Eksternal dalam Internalisasi Nilai Agama” semoga kita menjadi Guru yang selalu bertaqwa kepada Allah SWT  dan apabila melakukan sesuatu harus jujur dan jangan menjadi manusia yang lemah dan bermalas-malasan dalam bekerja dan selalu berusaha untuk yang terbaik dalam hidup.
Sekian dari kami, apabila ada kesalahan ngetik atau kata-kata yang kurang bagus mohon dima’lumi karena kita masih tahap belajar, sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

                                                                                    Cilegon, 6  Oktober 2010



                                                                                            Penyusun







DAFTAR ISI


Kata Pengantar ................................................................................................ i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
BAB I  : Pendahuluan...................................................................................... 1
BAB II : Pembahasan” Faktor Eksternal dalam Internalisasi Nilai Agama”.   2
  1. Faktor Eksternal dalam Internalisasi Nilai Agama ............................   2      
  2. Aspek Ajaran Agama Islam................................................................ 5
  3. Faktor Keberagamaan......................................................................... 6
BAB III : Kesimpulan...................................................................................... 7
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 8














BAB I
PENDAHULUAN

A.          LATAR BELAKANG MASALAH

Fitrah agama merupakan kemampuan dasar yang mengandung kemungkinan atau berpeluang untuk berkembang akan tetapi arah dan kualitas perkembangan beragama anak sangat bergantung pada proses pendidikan yang diterimanya.
Perkembangan beragama seseorang sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan, pada dasarnya secara hakiki. Setiap manusia memiliki pembawaan agama (homo Relegious) secara alamiah mereka mempercayai suatu zat yang mempunyai kekuatan diluar dirinya.

B.           RUMUSAN MASALAH

a.       Untuk Mengetahui Faktor Eksternal dalam Internalisasi Nilai Agama
b.      Memperkuat Iman kepada Allah SWT karena keagamaan sangat penting dalam kehidupan
c.       Mengetahui Dalil-dalil tentang Agama
d.      Mengetahui Hikmah-hikmah yang ada di Makalah tersebut
e.       Mengetahui cirri-ciri Mengetahui keagamaan pada Anak

C.          TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH

1.      Untuk Memperdalam Materi tentang Faktor Eksternal dalam Internalisasi Nilai Agama
2.      Untuk mengetahui seberapa penting Agama dalam kehidupan
3.      Dapat mengetahui seberapa faham Keagamaan pada anak










BAB II
FAKTOR EKSTERNAL
DALAM INTERNALISASI NILAI AGAMA

A.    Faktor Eksternal Dalam Internalisasi Nilai Agama

Lingkungan keluarga merupakan faktor eksternal utama yang ikut menentukan perkembangan keberagamaan seseorang. Orang tua sangat penting dan dominan dalam menumbuh kembangkan anak.
Eksistensi Agama merupakan sarana pemenuhan kebutuhan esoteris(mengontrol) manusia yang berfungsi untuk menetralisir tindakan. Tanpa bantuan agama manusia senantiasa bingung dan gelisah dan berakibat manusia tidak mampu memperoleh arti kebahagiaan.
Dalam Al-Qur’an disebutkan dengan mengingat Allah SWT jiwa manusia akan tenang, Al-Qur’an sebagai petunjuk dan obat. Dalam Firman Allah SWT:
tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ÉÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ÉÎ/ «!$# ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ
Artinya:”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.( QS.Ar-Rad : 28)

kšr'¯»tƒا â¨$¨Z9$# ôs% Nä3ø?uä!$y_ ×psàÏãöq¨B `ÏiB öNà6În/§ Öä!$xÿÏ©ur $yJÏj9 Îû ÍrߐÁ9$# Yèdur ×puH÷quur tûüÏYÏB÷sßJù=Ïj9 ÇÎÐÈ
Artinya:”Hai manusia, Sesungguhnya Telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.( QS.Yunus : 57)

öqs9ur çm»oYù=yèy_ $ºR#uäöè% $|ÏJygõƒr& (#qä9$s)©9 Ÿwöqs9 ôMn=Å_Áèù ÿ¼çmçG»tƒ#uä ( @ÏJygõƒ­#uä @Î1ttãur 3 ö@è% uqèd šúïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä Wèd Öä!$xÿÏ©ur ( šúïÏ%©!$#ur Ÿw šcqãYÏB÷sムþÎû öNÎgÏR#sŒ#uä ֍ø%ur uqèdur óOÎgøŠn=tæ ¸Jtã 4 šÍ´¯»s9'ré& šc÷ryŠ$uZム`ÏB ¥b%s3¨B 7Ïèt/ ÇÍÍÈ
Artinya:”Dan Jikalau kami jadikan Al Quran itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?" apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". (QS.Fushilat : 44[1])
Dalam memahami islam sebagai sebuah agama, terdapat 3 paradigma yang dikembangkan yaitu:
1.      agama dalam dimensi subjektif yaitu kesadaran keimanan umat (aqidah)
2.      agama dalam kondisi objektif yaitu berupa amaliah (akhlak)
3.      agama dalam dimensi simbolik yaitu ajaran keagamaan atau disebut syariat.
Ketiga dimensi tersebut merupakan satu kesatuan integral, apabila perilaku umat islam tidak mampu mencerminkan tersebut maka tidak akan mampu menghayati dan menjadikan agama islam sebagai alternative dalam persoalan yang dihadapi.
Agar manusia mampu menghayati agamanya dengan baik maka harus dijadikan islam sebagai acuan kehidupannya secara keseluruhan.
Firman Allah SWT:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=äz÷Š$# Îû ÉOù=Åb¡9$# Zp©ù!$Ÿ2 Ÿwur (#qãèÎ6®Ks? ÅVºuqäÜäz Ç`»sÜø¤±9$# 4 ¼çm¯RÎ) öNà6s9 Arßtã ×ûüÎ7B ÇËÉÑÈ
Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.( QS.Al-Baqarah: 208)
Dalam perkembangan hal keagamaan pada anak, maka orang tua harus mengetahui ciri-cirinya:
a.       sifat keberagamaan anak masih bersifat reseptif (menerima)meskipun banyak bertanya, maka orangtua sebagai contoh bagi pola imitasi keagamaan anak
b.      pandangan keagamaannya bersifat antropomorph (dipersonifikasikan)
c.       penghayatan secara rohaniah masih super fisial (belum mendalam) meskipun anak telah melakukan dalam kegiatan ritual
d.      hal ketuhanan masih bersifat idiosyncratic (menurut hayalan).
Sebagian orang tua sudah memperkenalkan nilai spiritual (keagamaan)  sejak masih dalam kandungan, untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit, apalagi berhubungan dengan psikis ruhani. Perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi tepatnya ketika terjadinya perjanjian manusia dengan Allah SWT.
 Tahapan Perkembangan beragama pada anak sejalan dengan kecerdasan perkembangan jiwanya sebagai berikut:
a)      The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng) pada tahap ini untuk anak yang beusia 3-6 tahun. Konsep mengenai tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosisehingga dalam menanggapi agama anak masih menggunakan konsep fantastic yang dilengkapi dengan dongeng yang kurang masuk akal.
b)      The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan) tahap ini dimulai dari usia masuk sekolah 7 tahun. Ide-ide tentang tuhan telah tercermin dalam konsep yang realistis dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran prang dewasa.
c)      The Individual Stage (Tingkat Individu ) anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi sejalan dengan usianya.[2]
Langkah awal yaitu memahami kondisi psikologi anak, dengan demikian penanaman nilai-nilai agama disesuaikan dengan usia dan kondisi, orang tua sebagai Pembina pribadi yang terlebih dahulu.
Orang tua harus mengalokasikan waktu yang cukup untuk memberikan kesempatan bagi anak berinteraksi serta meresapi sikap islami dalam keseharian. Persoalannya secara factual tidak semua orang dapat memenuhi criteria memiliki wawasan pengetahuan yang cukup, dalam situasi ini orangtua perlu mengambil upaya mengantar anak menuju pintu gerbang masa depan yang cerah, sehat dan agamis yaitu:
Pertama, mendatangkan guru privat agama pada waktu anak berusia dibawah 12 tahun untuk mengajarkan nilai-nilai dasar islam termasuk tatacara membaca Al-Qur’an, Hadits dan makna kandungan dari dalil tersebut.
Kedua, orangtua apabila menyekolahkan anak di SMP atau SMU harus dilembaga islam yang semacam pesantren modern yang berkualitas.
B.     Aspek Ajaran Agama Islam
1.      Keimanan
Hidup manusia tidak selamanya berjalan lurus, adakalanya goncangan hadir dalam langkah kehidupan manusia. Apabila kepribadiannya terkandung unsure keimanan yang teguh, utuh dan jiwanya sehat ia akan menghadapinya dengan tenang.
Unsur penting untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan adalah iman yang direalisasikan dalam bentuk ajaran agama. Iman dijadikan sebagai prinsip pokok dalam ajaran islam, menjadi pengendali sikap, tindakan, ucapan, dan perbuatan.
Orang yang percaya adanya tuhan tidak akan merasa kesepian dimanapun berada, keimanan akan menentramkan hati karena ada tempat mengeluh dan mengungkapkan segala perasaan hati.
2.      Shalat
Hubungan antara shalat dengan kesehatan mental telah diketahui dan dirasakan oleh banyak orang, hal ini berdasarkan QS.Al-Mu’minun:1-2
ôs% yxn=øùr& tbqãZÏB÷sßJø9$# ÇÊÈ tûïÏ%©!$# öNèd Îû öNÍkÍEŸx|¹ tbqãèϱ»yz ÇËÈ
Artinya:”1.  Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2.  (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,”
dan hadits yang artinya:” sesungguhnya shalat itu adalah ketenangan dan kerendahan hati” [3]
3.      Puasa
Terdapat sikap hidup dengan dikembangkannya puasa yaitu: mengendalikan diri terhadap hawa nafsu dan dorongan jahat yang ada dalam diri manusia, dan mengembangkan serta meningkatkan mengarahkan diri terhadap hal-hal yang serba baik dan di Ridhainya.
            Dengan berpuasa orang akan menjadi sadar, yakin  dan sabar melatih dirinya dalam menahan lapar dan haus serta menahan segala keinginan hawa nafsu dalam jangka waktu tertentu.
            Dalam dunia Tasawuf dikenal 3 langkah yang dihubungkan dengan usaha kesehatan mental yaitu: Takhalli ialah usaha mengosongkan diri dari segala perbuatan yang tidak baik. Tahalli ialah dengan mengisi diri seseorang dengan perbuatan atau tingkah laku yang baik. Tajalli ialah kondisi dimana seseorang benar-benar sempurna yang berimplikasi pada kesehatan mental. 
C.    Faktor Keberagamaan
Robert H.Thouless[4] mengemukakan 4 faktor keberagamaan yaitu:
1.      Pengaruh-pengaruh Sosial
2.      Berbagai pengalaman
3.      Kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian
4.      Proses Pemikiran
Menurut Buya Hamka [5] menjelaskan dalam suatu pembahasan tentang mencari Tuhan dalam keindahan alam dengan berdasarkan Firman Allah SWT QS.Ali Imran 190-191:
žcÎ) Îû È,ù=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur É#»n=ÏF÷z$#ur È@øŠ©9$# Í$pk¨]9$#ur ;M»tƒUy Í<'rT[{ É=»t6ø9F{$# ÇÊÒÉÈ tûïÏ%©!$# tbrãä.õtƒ ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4n?tãur öNÎgÎ/qãZã_ tbr㍤6xÿtGtƒur Îû È,ù=yz ÏNºuq»uK¡¡9$# ÇÚöF{$#ur $uZ­/u $tB |Mø)n=yz #x»yd WxÏÜ»t/ y7oY»ysö6ß $oYÉ)sù z>#xtã Í$¨Z9$# ÇÊÒÊÈ
Artinya:”190.  Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191.  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

BAB III
KESIMPULAN

Lingkungan keluarga merupakan faktor eksternal utama yang ikut menentukan perkembangan keberagamaan seseorang. Orang tua sangat penting dan dominan dalam menumbuh kembangkan anak.
Dalam perkembangan hal keagamaan pada anak, maka orang tua harus mengetahui ciri-cirinya:
- sifat keberagamaan anak masih bersifat reseptif (menerima)meskipun banyak bertanya, maka orangtua sebagai contoh bagi pola imitasi keagamaan anak
- pandangan keagamaannya bersifat antropomorph (dipersonifikasikan)
- penghayatan secara rohaniah masih super fisial (belum mendalam) meskipun anak telah melakukan dalam kegiatan ritual
- hal ketuhanan masih bersifat idiosyncratic (menurut hayalan).
Aspek Ajaran Agama Islam:
-          Keimanan
-          Shalat
-          Puasa
Faktor Keberagamaan:
Robert H.Thouless mengemukakan 4 faktor keberagamaan yaitu:
o   Pengaruh-pengaruh Sosial
o   Berbagai pengalaman
o   Kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan cinta, kebutuhan untuk memperoleh harga diri dan kebutuhan yang timbul karena adanya kematian
o   Proses Pemikiran





DAFTAR PUSTAKA

Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Belajar, Jakarta: Bulan Bintang, 1976
Al-‘Aliyy, Al-Qur’an Al-Karim, Diponegoro, Bandung, 2005
Imam Ghazali, Hikmah dan Rahasia Shalat, alih bahasa: A.Hunaf Ibriy,
Tiga Dua, Surabaya 1995
Rahmat Djatnika, Shalat sebagai Pengendali Mental, Al-Ikhlas, Surabaya 1983
Hamka, Filsafat Ketuhanan, Karunia, Surabaya
Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004




       [1] Al-‘Aliyy, Al-Qur’an Al-Karim, Diponegoro, Bandung, 2005 hal
       [2] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Belajar, Jakarta: Bulan Bintang, 1976, hal.113
       [3] Imam Ghazali, Hikmah dan Rahasia Shalat, alih bahasa: A.Hunaf Ibriy (Surabaya: Tiga Dua, 1995), hal. 58. baca juga Rahmat Djatnika, Shalat sebagai Pengendali Mental, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983)
       [4] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Belajar, op.cit, hal. 105
       [5] Hamka, Filsafat Ketuhanan, (Surabaya: Karunia,tt), hal.110-111

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar