Sabtu, 09 Juni 2012

PENGALAMAN DAN AKTUALISASI NILAI AGAMA PADA ORANG DEWASA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidkan dan kematangan jiwa terhadap nilai agama pada anak sangat di perlukan dalam era globalisasi kini. Tantangan berat akan di hadapi mereka di masa depan-nya. Oleh karena itu penting buat kita para pendidik (Orang tua dan guru) membekali mereka pendidikan formal dan nilai-nilai Agama serta nilai-nilai normative yang berlaku di masyarakat. Menurut Ustadz Yusuf Qordowi, ilmu pengetahuan diklasifikasikan menjadi 2 yang utama, yaitu :
Fardu ’ain, Segala macam ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pembinaan watak seseorang berkaitan hubungan-nya denagn Allah SWT dan manusia. Misalnya : aqidah, sholat, shaum, do’a. dll.
Fardu kifayah, Berbagai macam ilmu pengetahuan yang di butuhkan dalam kehidupan dan membangun umat. Misalnya : ekonomi,politik, kesehatan dll.
Pada saat kita sulit memcari figur pendidik yang baik, sehingga terjadi degradasi moral, meningkat nya perbuatan amoral dan lain sebagainya. Maka salah satu cara untuk mempersiapakan anak –anak kita adalah dengan memfungsikan kembali rumah sebagai madrasah al’ula, keluarga kita harus jadikan kembali sebagai tempat melahirkan dan mencetak pribadi muslim yang memiliki karakter baik. Tugas orang tua yang pertama pada balita adalah, memberikan pedidikan iman.
B. Tujuan Penulisan
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.       Untuk mempelajari tentang Pengalaman dan Aktualisasi Nilai Agama Pada Orang Dewasa.
2.       Untuk memberikan pengetahuan kepada para pembaca tentang Pengalaman dan Aktualisasi Nilai Agama Pada Orang Dewasa.
3.        Untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Jiwa Belajar Agama.


C. Rumusan Masalah
Dengan segala keterbatasan tim penulis, maka dalam makalah kami tidak begitu rinci dalam menjelaskan tentang Pengalaman dan Aktualisasi Nilai Agama Pada Orang Dewasa. Adapun yang kami jelaskan di sini rumusan masalahnya sebagai berikut:
  1. Bagaimanakah Pengalaman Nilai Agama Pada Orang Dewasa.
  2. Bagaimana Aktualisasi Nilai Agama Pada Orang Dewasa.
  3. Bagaimana Sebaiknya kita Menagaktualisasikan Nilai-Nilai Agama pada diri kita semua.
D. Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengna sistematika pembahasan yang meliputi: BAB I : PENDAHULUAN Menyajikan latar belakang masalah, tujuan penulisan, rumusan masalah dan sistematika penulisan; BAB II : PEMBAHASAN Membahas tentang Pengalaman dan Aktualisasi Nilai Agama Pada Orang Dewasa.. BAB II : PENUTUP menyajikan kesimpulan dan saran.  

BAB II
PEMBAHASAN
PENGALAMAN DAN AKTUALISASI NILAI AGAMA
PADA ORANG DEWASA

A.    PENGALAMAN NILAI AGAMA PADA ORANG DEWASA
Ada tiga hirarki pengalaman beragama Islam seseorang. Pertama, tingkatan syariah. Syariah berarti aturan atau undang-undang, yakni aturan yang dibuat oleh pembuat aturan (Allah dan RasulNya) untuk mengatur kehidupan orang-orang mukallaf baik hubungannya dengan Allah ( habl min Allah ) maupun hubungannya dengan sesama manusia (habl min al-Nas ).
Dataran syariat berarti kualitas amalan lahir formal yang ditetapkan dalam ajaran agama melalui al-Qur`an dan Sunnah. Amalan tersebut dijadikan beban ( taklif ) yang harus dilaksanakan, sehingga amalan lebih didorong sebagai penggugur kewajiban. Dalam dataran ini, pengamalan agama bersifat top dawn yakni bukan sebagai kebutuhan tapi sebagai tuntutan dari atas ( syari‘ ) ke bawah ( mukallaf ). Tuntutan itu dapat berupa tuntutan untuk dilaksanakan atau tuntutan untuk ditinggalkan. Seseorang dalam dataran ini, pengamalan agamanya karena didorong oleh perintah, bukan semata – mata kebutuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat al-Qusyairi dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah
الشريعة أمر بالتزام العبودية والحقيقة مشاهدة الربوبية. فالشريعة جاءت بتكليف الخالق، والحقيقة إنباء عن تصريف الحق.فالشريعة أن تعبده،والحقيقة أن تشهده.والشريعة قيام بما أمر، والحقيقة شهود لما قضى وقدر، وأخفى وأظهر.
“Syariah adalah perintah untuk memenuhi kewajiban ibadah dan haklikat adalah penyaksian ketuhanan, Syariat datang dengan membawa beban Tuhan yang maha pencipta saedangkan hakikatmenceritakan tentang tindakan Tuhan Syariah adalah engkau mengabdi pada Allah sedangkan hakikat adalah engkau menyaksikan Allah, Syariah adalah melaksanakan perintah sedangkan hakikat menyaksikan apa yang telah diputuskan dan ditentukan, yang disembunyikan dan yang ditampakkan”
Kedua, tingkat tarikat yaitu kesadaran pengamalan ajaran agama sebagai jalan atau alat untuk mengarahkan jiwa dan moral. Dalam dataran ini, seseorang menyadari bahwa ajaran agama yang ia laksanakan bukan semata-mata sebagi tujuan tapi sebagai alat dan metode untuk meningkatkan moral. Puasa Ramadlan misalnya, tidak hanya dipandang sebagai kuwajiban tapi juga disadari sebagai media untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi yaitu sikap bertaqwa. Demikian juga ,tuntutan-tuntutan syariah lainnya disadari sebagai proses untuk mencapai tujuan moral.
Ketiga, tingkatan hakikat yang berarti realitas, senyatanya, dan sebenarnya. Dalam tasawuf yang real dan yang sebenarnya adalah Allah yang maha benar atau real ( al-Haq ). Dengan demikian tingkat hakikat berarti dimana seseorang telah menyaksikan Allah s.wt. Pemahaman lain dari hakikat adalah bahwa hakikat merupakan inti dari setiap tuntutan syariat.Berbeda dengan syariat yang menganggap perintah sebagai tuntutan dan beban maka dalam dataran hakikat perintah tidak lagi menjadi tuntutan dan beban tapi berubah menjadi kebutuhan. Itulah Aba Ali al-Daqaq yang dikutip oleh al-Quyairy mengatakan;
سمعت الأستاذ أبا علي الدقاق، رحمه الله، يقول: قوله: إياك نعبد حفظ للشريعة وإياك نستعين إقرار بالحقيقة.
“Saya mendengar al-Ustadz Abu Ali al-Daqaq rahimahu Allah berkata” firman Allah iyyaka na’budu (hanya padamu aku menyembah) adalah menjaga syariat sedangkan waiyyaka nastain (dan hanya padamu kami meinta pertolongan) adalah sebuah pengakuan hakikat.”
B.     AKTUALISASI NILAI AGAMA PADA ORANG DEWASA
Benarkah, Islam kini cuma sebatas simbol semata. Faktanya, di Indonesia – yang mayoritas muslim, nilai ajaran Islam tak lagi bisa berdiri tegak. Korupsi merata di semua lini kehidupan. Kriminalitas merajalela. Kenakalan remaja kian mencuat. Segala ragam rupa tindak maksiat pun, tak lagi tabu di masyarakat.
Menurut Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA, ini adalah buah pemahaman agama yang tak dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. ”Kata paham adalah wilayah intelektualitas, bukan spiritualitas,” tukasnya. Orang yang paham, jelasnya, bukan berarti mesti menghayati, apalagi mengamalkan. ”Paham itu, hanya sekedar tahu. Yang pasti, orang makin pintar dan paham, makin bisa berbuat banyak. Tergantung apakah akan digunakan untuk berbuat hal yang positif atau negatif,” tandasnya.
Selama penanaman pohon nilai agama masih belum masuk ke dalam relung hati dan diamalkan secara maksimal, tegasnya, maka buah ajaran agama pun akan sulit dipetik. Semua agama, ujar Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini menjelaskan, selalu mengajarkan kebaikan. Semua agama melarang korupsi, maksiat, serta perilaku menyimpang lainnya. ”Tapi, ketika agama hanya menjadi sebuah label, sebuah simbol dan hanya menjadi kulit luar, maka sebaik apa pun ajaran itu, tidak akan ada gunanya. Bahkan kadang-kadang disalahgunakan,” papar alumnus Fakultas Adab Universitas al-Azhar Kairo Mesir ini menegaskan.
Walau hanya sekedar ajaran moral, terangnya mencontohkan, namun jika dihayati dan diamalkan bagi orang yang percaya, maka akan berdampak pada nilai-nilai ruhaniyah yang berefek pada tindakan-tindakan jasmaniyah. ”Ini sebenarnya soal internalisasi ajaran, bukan sekedar simbol ajaran, deklarasi ajaran, ataupun formalisasi ajaran,” tukas pria kelahiran di Nganjuk 7 Juni 1955 itu.
Maka, agar pengajaran agama bisa menginternal, paparnya, penanaman nilai-nilai agama harus bersamaan dengan moral agama. ”Semisal ajaran shalat. Kita harus bisa menggali nilai-nilai yang terkandung dalam shalat, sehingga kita benar-benar bisa mencapai tujuan shalat, yaitu tanha ’anil fakhsyai wal munkar,” tuturnya.
Penciptaan lingkungan menjadi sangat penting di sini, agar nilai ajaran itu bisa tertanam dan mudah terlaksana. Sebab, faktor pendidikan yang terpenting, menurutnya, sebenarnya adalah faktor lingkungan. Baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. ”Setelah itu, baru faktor pendidik dan potensi anak didik itu sendiri. Selain itu, hanyalah sebagai penunjang,” tukasnya.
Menurutnya, ada perbedaan mencolok antara pendidikan zaman lampau dengan sekarang. Hal itu terletak pada faktor keteladanan. ”Dulu, interaksi guru murid lebih personal. Sekarang sudah bergeser kepada lembaga atau institusi. Sebab saat ini, satu guru menangani banyak murid dengan perilaku yang beragam,” paparnya.
Di zamannya dulu, Ustadz Zahro – demikian ia karib disapa – biasa belajar pada keteladanan perilaku guru ngajinya, selain belajar kitab tentunya. ”Dengan meneladani sifat dan sikap guru yang baik, akan memudahkan kita belajar sesuatu. Rasulullah sukses berdakwah pun, karena uswah beliau,” ucapnya.
Maka, peringatan maulid Nabi Muhammad Saw., lanjutnya, merupakan moment penting untuk membangkitkan memori keteladanan Rasul. ”Nama peringatan itu sebenarnya kan memiliki arti tegas, yaitu untuk memperingatkan kita,” ujarnya. Di dalamnya ada ceramah dan pencerahan yang bisa menambah wawasan dan membuka memori keteladanan terhadap Rasulullah. Sebab saat itu, sejarah Rasul (diba’ atau barjanji) dibacakan. ”Sayangnya hanya dibaca sebagai wirid. Memang tidak salah membaca diba’ atau manakib. Tapi ya.. seyogyanya bisa diterangkan makna dan nilai-nilainya,” tukasnya.
Semua pelaksanaan peringatan maulid ini, terlepas dari pro dan kontra atas hukum memperingati maulid nabi. Sebab menurutnya, hal ini lebih merupakan hasil ijtima’ ulama dalam hubungan interaksi sosial.
Inti keteladanan Rasulullah itu, papar penulis buku ‘Tradisi NU; Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999’  itu, ada tiga macam. Pertama, adalah Uswah Ta’abbudiyah (ritual). Keteladanan ritual ini harus persis sebagaimana yang dicontohkan nabi. Prinsipnya, ibadah ritual harus sesuai dengan al-Qur’an dan Al-Hadits. ”Jadi tidak boleh mengarang, walaupun tuntunan itu ada bermacam-macam,” ucapnya. ”Semisal shalat Dhuhur harus dikerjakan 4 rakaat dan cara shalat pun demikian. Tapi doanya, ada beberapa macam,” tambah Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang ini.
Kedua, Uswah Ijtima’iyah (keteladanan sosial), yaitu keteladanan nabi yang terkait dengan kemasyarakatan. Semisal, bagaimana model kepemimpinan nabi dalam mengatur negara dan umat. Saat itu, terangnya, nabi masih belum punya mentri. Model pemerintahannya masih sederhana. ”Kalau mau ditiru, ya silakan saja. Kalau mau dikembangkan, juga tidak apa-apa. Intinya yang kita ambil dari keteladanan Rasulullah dalam kaitan ini, adalah ide besar kepemimpinan Rasulullah,” terangnya.
Ketiga, Uswah Tsaqafiyah (Keteladanan Kultural). Ini sifatnya lokal. ”Nabi itu orang Arab. Kita boleh saja meniru budaya Arab dan boleh tidak,” tandasnya. Semisal dalam hal berpakaian. Begitu juga dengan  memelihara jenggot. Menurutnya, semua hal itu adalah produk budaya. ”Lantas, kenapa kita harus saling ngotot memperdebatkannya,” selorohnya.





BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Ilmu jiwa agama adl suatu bidang disiplin ilmu yg berusaha mengeksplorasi perasaan dan pengalaman dalam kehidupan seseorang. Penelitian itu didasarkan atas dua hal yaitu sejauh mana kesadaran beragama dan pengalaman beragama . Apabila standar itu kita coba terapkan pada seseorang yg secara spesifik beragama Islam maka akan kita lihat beberapa standar diantaranya Al-Qur’an dan As-Sunnah dan penjelasan para ulama.
Pada masa balita yang sangat punya peranan penting “ Kunci “ terhadap aktualisasi nilai – nilai agama terhadap agama adalah orang tua, terutama ibu. Satu perbuatan baik dari orang tua yang sholeh dan sholehah, sudah mewakili nasehat yang banyak. Sedagnkan perananan yang paling penting bagi orang dewasa adalah dirinya sendiri.
B.     SARAN
Dengan adanya makalah tentang Pengalaman dan Aktualisasi Nilai Agama Bagi Orang Dewasa ini semoga bagi yang membaca makalah ini mendapatkan sedikitnya tentang bagaiamana sebaiknya kita mengaktualisasikan nilai-nilai agama yang kita anut yakni Islam dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya sebagai simbol semata.

REFERENSI

Prof. DR. Zakiah Derajat, Ilmu Jiwa Agama. Bulan Bintang : Jakarta cet. 15 1996.
Muhamad Bisri, Memulai dan Tumbuh di Dalam Islam. Progres : Jakarta 2003.
Prof. Dr. Muhaimin, MA, Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Prenada Media : Jakarta 2007.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar